Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita. Tampilkan semua postingan
Mengapa gelombang panas di India mematikan

Gelombang panas yang menerjang India minggu ini telah membunuh sedikitnya 1.000 orang. Namun, jumlahnya diperkirakan lebih dari itu.

Jatuhnya korban jiwa yang tidak sedikit itu terjadi karena panas terik. Suhu dikabarkan mencapai 47 derajat celsius. Gelombang panas di wilayah selatan India itu telah memasuki hari keenam.

Meski demikian, menurut Dr Gulrez Shah Azhar, peneliti kesehatan masyarakat di Santa Monica, California, kematian terjadi bukan karena gelombang panas itu.

Gelombang panas menjadi sesuatu yang ganas bagi orang yang sebelumnya sudah memiliki gangguan kesehatan, misalnya penderita penyakit jantung atau dehidrasi.

"Ini karena gelombang panas akan melemahkan tubuh. Orang yang sebelumnya punya penyakit cenderung akan semakin lemah hingga berakibat fatal," kata Azhar.

Walau informasi jumlah korban resmi yang dikeluarkan Pemerintah India sudah 1.000 orang, Azhar meyakini bahwa jumlahnya lebih dari itu.

"Ini karena orang yang meninggal akibat gelombang panas tidak selalu disebabkan oleh heatstroke atau ruam panas. Banyak yang meninggal karena serangan jantung, gagal ginjal, dehidrasi, atau kondisi medis lainnya yang diperburuk oleh gelombang panas," paparnya.

Di kota Ahmedabab, India barat, tahun 2010, pemerintah setempat melaporkan adanya 50 korban jiwa akibat gelombang panas selama sepekan. Namun, studi tahun 2010 yang kemudian dilakukan Azhar dan timnya menemukan bahwa 1.344 orang meninggal pada pekan paling panas tersebut, dibandingkan periode udara yang lebih sejuk.

Sekitar dua pertiga dari kematian tersebut terjadi pada wanita. Namun, Azhar belum mengetahui apa penyebabnya.

Selain itu, Azhar menilai, kebanyakan korban tewas tidak terhitung dengan akurat karena Pemerintah India hanya berpegang pada sertifikat penyebab kematian. Padahal, tunawisma dan gelandangan sering kali tidak mendapatkan sertifikat kematian.

Adaptasi

Cuaca di India hampir selalu panas. Namun, korban meninggal akibat heatstroke tidak selalu ada. Ini karena tubuh bisa menjaga agar suhunya cukup rendah sehingga bisa berfungsi normal.

Di beberapa negara lain yang cuacanya sering panas dengan suhu yang hampir sama dengan India juga tidak mengakibatkan korban meninggal sebanyak itu. Jadi, apa penyebanya?

"Gaya hidup membuat kita lebih rentan pada panas," kata Azhar.

Orang India dahulu hanya tinggal di dalam rumah ketika cuaca sedang terik dan minum yoghurt dingin. Jika harus keluar rumah, mereka akan menutupi kepala dengan kain putih.

Tradisi orang yang tinggal di wilayah gurun, mereka membangun rumah dengan atap yang tinggi, insulasi dan jendela yang akan melindungi dari cahaya matahari. Namun, kini, menurut Azhar, banyak orang yang kehilangan kemampuan dalam hal cara mereka menghadapi gelombang panas.

"Banyak orang yang sekarang tinggal di gubuk bermaterial timah di kota-kota besar yang suhunya beberapa derajat lebih hangat," katanya.

Pasca-gelombang panas yang mematikan pada tahun 2010, Azhar dan timnya bekerja sama dengan pemerintah kota di Ahmedabad untuk membuat langkah pencegahan kematian akibat gelombang panas.

Intervensi sederhana, seperti mengirim pesan di ponsel untuk memperingatkan warga tentang cuaca panas, atau membuka tempat penampungan bagi gelandangan saat cuaca panas, bisa menurunkan angka kematian akibat gelombang panas.

"Pemerintah juga bisa menekan peristiwa jatuhnya korban dengan menghindari pemadaman listrik atau air, yang mati saat cuaca panas," katanya.

gelombang panas mematikan di india
Gelombang panas di India telah memakan korban lebih dari 1000 jiwa. Banyak warga mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan karena suhu tinggi, yaitu mencapai 45-48 derajat celcius setiap hari belakangan ini. Bahkan, di beberapa wilayah di India, suhu mencapai 50 derajat celsius.
Untuk menekan angka korban jiwa, pemerintah India telah mengeluarkan imbauan agar warganya keluar rumah menggunakan penutup atau pelindung kepala. Warga juga diminta selalu membawa air minum untuk menghindari dehidrasi.

Lantas, bagaimana suhu tinggi dapat menyebabkan dehidrasi parah yang mematikan?

Pakar Fisiologi yang juga anggota Indonesian Hydration Working Group (IHWG) dokter Ermita Ilyas mengungkapkan, udara yang sangat panas akan membuat kelembaban tubuh menjadi rendah. Cairan dalam tubuh pun menguap dan mengeluarkan panas. Sementara itu, cuaca sangat panas akan membuat kelembaban suhu udara menjadi tinggi.

“Kelembaban tinggi, udara penuh air. Jadi enggak menguap cairan di tubuh kita. Malah jadi cairan yang menetes, yaitu keringat. Banyak keluar cairan, jadi dehidrasi. Makin panas, makin banyak keringat,” terang Ermita saat dihubungi Kompas.com, Jumat (29/5/2015).

Dehidrasi ringan ditandai dengan rasa haus, mulut kering, dan tubuh lemas. Pada tingkat yang cukup parah, dapat menyebabkan penderitanya pingsan dan suhu tubuh tinggi. Kekurangan cairan pun tak hanya terjadi pada tubuh, tetapi juga pada otak.

“Kalau dehidrasi berat bahkan bisa mengigau, enggak sadar kan diri karena otak kurang cairan hingga kematian itu,” jelasnya.

Untuk itu, hindari tubuh kekurangan cairan dengan cukup minum air, apalagi ketika cuaca begitu panas. Dehidrasi ringan dapat diatasi dengan pemberian minum. Sedangkan pada kasus berat, pasien akan diberi cairan melalui infus.
gelombang panas di india
Gelombang udara panas di India sejak sepekan lalu hingga Rabu (27/5/2015) menewaskan lebih dari 1.000 orang. Cuaca ekstrem itu masih akan mengancam hingga akhir Mei 2015. Namun, gangguan cuaca di Asia Selatan itu tak berpengaruh bagi Indonesia.

BBC pada Rabu melaporkan bahwa gelombang panas tersebut menewaskan 1.118 korban jiwa di India. Tercatat suhu udara di beberapa wilayah di negeri itu sudah mendekati 50 derajat celsius. Sebagian besar korban meninggal tercatat di Negara Bagian Telangana dan Andhra Pradesh, di selatan India.

Baca juga: Bagaimana Suhu Tinggi Sebabkan Dehidrasi yang Mematikan?

Di kota-kota yang dilanda gelombang panas, warga memborong buah-buahan seperti semangka atau memadati pusat-pusat perbelanjaan berpendingin udara. Sumber air dan pancuran air dipadati pengunjung. Bahkan, ada foto yang menampilkan garis penyeberang jalan (zebra cross) meleleh di aspal.

Kondisi gelombang panas mulai dirasakan di dua negara bagian India tersebut sejak pertengahan April lalu. Namun, kematian penduduk terbanyak terjadi pekan lalu karena peningkatan suhu yang berlebihan.

Temperatur di Andhra Pradesh bahkan mencapai 47 derajat celsius pada Senin (25/5), hingga menelan 852 korban jiwa. Peningkatan suhu itu akan menyebabkan kram, kelelahan, dehidrasi, dan tersengat panas, hingga korban meninggal dunia.

Gelombang panas, yaitu periode terjadinya kenaikan suhu udara di atas normal di India, biasanya terjadi antara bulan Maret dan Juni. Bulan Mei merupakan bulan terpanas di India. Suhu rata-rata maksimum di New Delhi bisa mencapai 41 derajat celsius.

Akibat gelombang panas pada tahun 2002 dan 2003, misalnya, ribuan orang dilaporkan tewas. Pada tahun 2010, sekitar 300 orang meninggal karena suhu panas yang intens. Dalam dua tahun terakhir di ibu kota India, New Delhi, terik panas matahari mencapai suhu maksimum 45,5 derajat celsius.

Gelombang panas itu, menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Edvin Aldrian, dipicu oleh angin panas dari padang pasir Iran dan Afganistan melalui laut Arab. Angin panas tersebut tertahan di Pegunungan Himalaya sehingga bertahan lama di kawasan India. "Blocking udara panas inilah yang menewaskan banyak korban jiwa," ujar Edvin.

Diprediksi, kondisi ekstrem itu akan berakhir ketika angin monsun dari selatan yang membawa banyak awan muncul pada Juni mendatang.

Gelombang Rossby

Cuaca ekstrem ini merupakan dampak dari tertahannya fenomena Gelombang Rossby. Gelombang massa udara di atmosfer ini bergerak melingkar di wilayah kutub hingga subtropis. Pergerakannya ke arah timur tanpa putus bak "ban berjalan". Jika pergerakannya terganggu, akan muncul cuaca ekstrem.

Itulah yang terjadi saat ini di India berupa gelombang panas. Kondisi sebaliknya berupa cuaca dingin yang ekstrem dapat terjadi di belahan bumi lain saat musim dingin, seperti yang terjadi di Eropa pada tahun 2010.

Gelombang dingin saat itu menyebabkan sekitar 400 orang meninggal. Sementara dua tahun kemudian muncul fenomena sama, yaitu kemunculan hujan salju hingga di Afrika Utara, yaitu di Aljazair, Libya, dan Tunisia. Itu terjadi karena suhu di wilayah  tropis sangat tinggi dan  tekanan sangat rendah. Kondisi tersebut membuat tarikan massa udara di kutub  terlalu kuat hingga berdampak turun salju terlalu jauh ke selatan. "Ini kejadian luar biasa," ujar Edvin.

Gelombang panas juga pernah terjadi pada tahun yang sama di Jepang, yang mengakibatkan 66 orang tewas akibat hipertermia dan gangguan otak. Di Tiongkok, sengatan suhu udara hingga 44 derajat celsius.

Gelombang Rossby dinamai sesuai dengan nama penemunya, Carl-Gustaf Rossby, pada tahun 1930-an. Gerakan gelombang itu dipicu dua pusat tekanan udara rendah di Samudra Atlantik dan Samudra Pasifik. Tepatnya di utara Samudra Atlantik dan perairan sekitar Kuroshio, Jepang, di Pasifik.

Keberadaan dua "motor penggerak" itulah yang membuat gelombang Rossby terus bergerak ke timur dengan pola naik turun, baik secara vertikal maupun horizontal. Apabila pergerakannya terganggu atau terhenti, keseimbangan pola distribusi massa udara itu pun terganggu sehingga menimbulkan cuaca ekstrem di lokasi gelombang tersebut "parkir". Hal itu terjadi karena akumulasi tekanan udara dan massa udara di daerah tersebut.

Kejadian ekstrem berupa gelombang panas dan gelombang dingin berulang setiap tahun, sejak lima tahun terakhir. Menurut Edvin, hal tersebut merupakan dampak dari peningkatan suhu global dan perubahan iklim.

Sementara itu, Kukuh Ribudiyanto, Kepala Bidang Peringatan Dini Cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, menjelaskan, pengaruh gelombang panas tidak akan sampai ke Indonesia. Hal itu karena pola angin timuran sudah berlangsung di Indonesia, yaitu angin bertiup dari timur atau tenggara dari sekitar Australia ke daratan Asia.

Pada saat yang sama, suhu muka laut masih hangat di perairan Indonesia bagian barat sehingga masih ada potensi terbentuk awan hujan.

source: kompas.com


Beras yang diduga berbahan baku plastik ditemukan di Bekasi, Jawa Barat. Jika dikonsumsi manusia, beras plastik jelas dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Sebab, plastik bukanlah bahan makanan untuk dikosumsi manusia.




Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi Hepatologi Ari Fahrial Syam mengungkapkan, konsumsi beras plastik dapat menganggu saluran cerna atau membuat pencernaan menjadi error. "Kalau dimasak, plastik akan terurai. Ada bahan kimia yang terurai masuk bersama makanan. Tubuh akan salah mengenali, akibatnya sistem pencernaan kita menjadi "error" karena racun tersebut," terang Ari saat dihubungi Kompas.com, Rabu (20/5/2015).




Ari menjelaskan, plastik merupakan benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Plastik tidak akan diproses secara sempurna oleh sistem cerna manusia. Jika dikosumsi dalam jumlah banyak, konsumsi beras plastik dapat menimbulkan reaksi di saluran cerna. "Tentu keluhan pencernaan akan muncul pada orang yang konsumsi beras plastik, seperti mual, kembung, muntah, jadi susah buang air besar," ungkap Ari.




Isu beredarnya beras plastik ini, berawal dari adanya laporan seorang warga yang diduga membeli beras plastik di Bekasi. Warga bernama Dewi itu, meyakini beras yang dibelinya bercampur dengan plastik, karena ia pernah melihat pemberitaan beredarnya beras sintetis di Indonesia di salah satu stasiun televisi swasta. Dewi merasa ciri beras yang disebutkan sama dengan yang ia beli. Dewi yang merupakan penjual bubur itu, melihat perbedaan ketika beras dimasak dan akan dikosumsi.